Asal usul desa Parung


 SEJARAH DESA PARUNG KEC.DARMA KAB.KUNINGAN 

Asal-Usul Desa Parung

    Menurut “Abah Nurhami” salah satu saksi sejarah seorang warga asli Parung yang sudah berusia hamper 100 tahun mengatakan bahwa, nama Desa Parung berasal dari Parungpungan/saringsingan(sarang lebah) yang sekarang dikenal dengan nama Mancagar. Ketika itu ada seorang wali besar yang sangat terkenal dan tersohor sebagai seorang yang memiliki peranan yang sangat penting. Selain arif dan bijaksana juga memiliki rasa social yang tinggi terhadap sesama. Karena kebersihan hatinya Sunan Parung memiliki dan menguasai ilmu putih yang di sebut ilmu “Supata” (sipahit lidah).Ketika di kejar-kejar oleh 4 keris pusakamusuh-musuhnya, sunan parung (mbahSaringsingan) memilih menyelamatkan diri dengan memasuki sebuah tempat bernama parungpungan, sehingga sampai sekarang terkenal dengan nama Desa Parung.Sunan Parung(mbah Saringsingan) berasal dari Ciledug atau Cirebon wetan,beliau mempunyai 2 orang istri, istri yang tua bernama “Putri Kyai Centra Anik” dan istri yang muda bernama “Nyi Mas Patuakan”, sunan Parung lebih memilih tinggal dengan istri muda yaitu Nyi Mas Patuakan(Nyi Runday Kasih). Selain memiliki 2 orang istri, beliau memiliki adik yang bernama “Buyut Soka” suatu ketika sunan parung menyuruh adiknya untuk melaksanakan shalat ,daripada menuruti perintah kakaknya maka maka “Buyut Soka” memilih pergi meninggalkan Parung dengan membuka suatu paguron silat (Pakalangan Anyar) yang sekarang dikenal dengan Desa Karang Anyar Kecamatan Darma Kabupaten kuningan, karena sunan parung selalu berpindah pindah, sebagai bukti sejarah makamnya berada di Desa karang Anyar. Parung terbagi menjadi dua tempat yaitu Lamping Parung dan Sawah Parung yang berdekatan dengan Ciborelang salah satu dusun di Desa Bakom Kecamatan Darma. Parung waktu itu terdiri dari 4 Blok yaitu ; Babakan, Karang Tengah, Hadirudin, dan Mancagar, karena mengalami perkembangan sekarang Desa parung terdiri dari 2 Rukun warga (RW),RW 1 meliputi Babakan ,Karang Tengah dan Mancagar, sementara RW 2 meliputi Sukamaju, Sukamulya, Hadirudin dan Suka Asih yang kesemuanya ada 10RT di Desa Parung.Nama Babakan berasal dari kata ngababakan (setiap kegiatan dimulainya dari Babakan), nama Karang Tengah karena antara Babakan dan Mancagar dibatasi di tengah tengah maka ada Karang Tengah, sampai sekarang Karang Tengah menjadi penengah dan penyeimbang dalam segala hal bahkan kuwu(pemimpin Desa) kebanyakan dari karang Tengah.Nama Hadirudin karena kehadiran seorang yang berpakaian “Rudin” tetapi memiliki peranan yang penting sehingga ada blok Hadirudin. Sementara Mancagar merupakan pusat pemerintahan di zaman sunan Parung karena sewaktu beliau dikejar oleh 4 keris pusaka musuh-musuhnya masuk ke sebuah Parungpungan/Saringsingan (sarang lebah) atau mancagar sekarang, sehingga dalam mengambil keputusan mancagar sebagai penentu. Di parung tepatnya di Mancagar dan hadirudin masih menyimpan misteri yang sampai sekarang masih belum terungkap konon katanya di Mancagar ada sebuah gunung kecil yang tidak pernah terlihat oleh siapapun dan di belakang gunung itu terdapat sebuah istana “Pendopo Nyi Mas Patuakan” (Nyi Runday Kasih) isri mudanya sunan parung (Mbah Saringsingan). Sementara itu di Hadirudin menurut orang-orang Cirebon terdahulu terdapat 2 ember emas dan susur mutiara bodas yang ditutupi oleh kekuatan mistis (ghoib) dan pepohonan bamboo di kebun jambu satar, kalau kelihatan oleh orang-orang Parung itu menjadi kekayaan berharga bagi Desa Parung, tetapi sampai saat ini belum ada yang tahu dimana keberadaannya benda tersebut karena tempatnya tersembunyi dan berubahnya zaman.
Orang-orang yang mempunyai
peranan penting di waktu itu, antara lain :Mbah Grogol (di makamkan di Cipulus),Mbah Tujuh (dimakamkan di sumur Tujuh Gunungjati Cirebon), Syekh iler (dimakamkan di Kebun kusin Parung),Buyut sangkir / Buyut Diva (dimakamkan di Mancagar Parung), Buyut Jammudin (dimakamkan di Mancagar Parung),sementara Nyi Runday Kasih (dimakamkan di Paninggaran tepatnya di Pasir Pingit).Nyi Runday Kasih bisa berubah wujud (Mancala Putra Mancala Putri) dan memiliki banyak nama, sehingga di parung sempat di hebohkan dengan adanya gadis yang sangat cantik dan berwajah ayu. Kecantikan tidak ada tandingannya bernama “Nyi Mas Endang Wangi Kabu” atau nama lainnya Nyi Mas Baragas dan Nyi Nur Asih yang berada digunung Panenjoan, sejak dahulu Parung adalah sebuah tempat yang menarik karena berada dikawasan pegunungan Panenjoan,sebuah desa kecil nan elok yang sekarang menjadi jantungnya kecamatan darma,masyarakatnya dikenal ramah karena memiliki seorang pemimpin yang sangat arif dan bijakana yaitu “Sunan Parung” dikala itu. Kemunculan seorang gadis cantik berwajah ayu, yang kecantikannya tidak ada yang menandinginyamembuat para lelaki sejati dan para jawara penasaran ingin bersinggah di parung untuk melihat kecantikan gadis itu dan memilikinya. Padahal gadis yang bernama Nyi Mas Endang wangi kabu atau nama lain Nyi Mas Baragas dan Nyi Nur Asih dari Gunung panenjoan yang cantik itu adalah jelmaan Nyi Runday kasih yang berubah wujud Mancala Putra muncala putri danmemiliki banyak nama (istri muda sunan parung), sehingga pada saat itu, “Parung”dijadikan tempat “Ajang ngadu ilmu” (terutama ilmu yang tidak baik) mencari perhatian agar gadis cantik yang tidak ada tandingannya tertarik oleh mereka. Sunan Parung yang merasa terganggu terhadap ulah mereka seperti : Aki Suri, Aki Sihir, Aki Gembro dan Aki Semboyan menyupata mereka, sehingga Aki Sihir pergi ke Cianjur, Aki Semboyan berubah menjadi Kayu, Aki Suri berubah menjadi Bonteng Suri(nama sebuah tempat di Ciledug-Cirebon), sementara Aki Gembro berubah menjadi Batu yang sekarang ada di Puncak Gunung Panenjoan. Mbah Saringsingan (Sunan parung) orangnya suka berkelana dan tidak selalu menetap, dia berpergian jauh, tempat yang pernah di singgahinya antara lain :Citamba, gunung Sirah,Karang Anyar danDarmaloka. Tidak menutup kemungkinan masih banyak tempat lainnya yang pernah di singgahi. Terjadinya Desa Parung akibat Mbah Saringsingan (Sunan Parung) terus menerus di kejar oleh 4 keris musuh-musuhnya dan masuk menembus kesebuah “Parungpungan”, tempat sarang lebah (saringsingan) sampai sekarang di sebut Sunan parung...





IM_Abdurrohman